PEMBAHASAN
A. Candi
Borobudur warisan Leluhur Bangsa
Arca Budha Candi
Borobudur dan Bukit Manoreh
courtesy ©2008 Renee Scipio
courtesy ©2008 Renee Scipio
Candi Borobudur merupakan candi
Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa
Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram
Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Nama Borobudur merupakan gabungan dari
kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau
biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas, dengan
demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit. Sementara menurut sumber
lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara sumber
lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri
dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum
direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah
digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa
Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan
tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang
berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.
Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
- Kamadhatu, bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
- Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka.
- Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk.
- Arupa, bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap
tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut berjalan
searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur
bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-macam isi
ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula
relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang
menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas
petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief
kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu
berpusat di Bergotta (Semarang).
B. SEJARAH
CANDI BOROBUDUR
Sekitar tiga ratus tahun lampau,
tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk
sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur
diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi,
disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi
(1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku
Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian
pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta,
yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang
terkurung dalam sangkar.
Arca Budha dalam relung Candi
Borobudur ©2009 arie saksono
Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat
berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu
berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum
seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua
bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan
pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi
lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.
Ø Nama Borobudur
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit. Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit. Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.
Ø Pembangunan Candi Borobudur
Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.
Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.
Sebelum dipugar,
Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi
yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles
maupun Residen Hatmann, setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada
1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi
dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp
sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan
satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi
Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya.
Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India.
Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi
di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan
mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ.
Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan
ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.
Penelitian
terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya
membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan
bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara
Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis
berada pada satu jalur.
C.
SOSIAL BUDAYA CANDI BOROBUDUR
Ø Kondisi Budaya
Candi Borobudur merupakan hasil kebudayaaan indonesia yang
sangat berharga dan menujukan adanya nilai yang sangat tinggi yang dapat
dilihat dari seni bangunan, seni rupa, yang terdiri dari seni lukis, termasuk
relief, seni patung, dan seni kerajinan. Dilihat dari segi sosial Candi
Borobudur ini dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi bagi masyarakat
sekitarnya menjadikan Candi Borobudur sebagai objek wisata budaya membawa
dampak positif terhadap bangunan dan situsnya, perlindungan dan pelestarian
sumber daya budaya ini semakin diperhatikan. Pemintakatan (zonasi) yang
dilakukan di situs Candi Borobudur merupakan salah satu upaya untuk melindungi
Candi Borobudur dari kerusakan baik yang disebabkan oleh faktor manusia dan
binatang maupun fatktor alam.
Dampak ekonomi
dalam konteks penelitian ini adalah aktivitas-aktivitas baru untuk memperoleh
penghasilan atau sarana untuk bertahan hidup, yang muncul sebagai akibat adanya
perubahan pemanfaatan Candi Borobudur setelah dilaksanakannya pemugaran.
Aktivitas
untuk memperoleh penghasilan ini dapat berupa pola-pola baru, misalnya
tukar-menukar barang ataupun jasa seperti munculnya rumah-rumah makan, hotel,
pengasong, dan industri kerajinan. Jika ada dampak ekonomi positif seperti
dikemukaan di atas, tentu saja ada juga dampak negtifnya. Dampak negatif
terjadi pada beberapa orang yang tanahnya harus dibebaskan untuk pembangunan
Taman Wisata Candi Borobudur. Sebagian dari mereka ada yang dapat ditampung
sebagai karyawan taman wisata tersebut, sebagian lagi mendapat prioritas untuk
memperoleh tempat berjualan atau membuka usaha di sekitar taman wisata,
sedangkan sebagian yang lain hanya memperoleh ganti rugi. Mereka yang termasuk
dalam kategori terakhir inilah yang tampak memperoleh dampak negatif.
D. DAMPAK PEMANFAATAN CANDI BOROBUDUR SEBAGAI
OBYEK WISATA
Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran wisatawan ke Borobudur telah membawa dampak positif yang sangat besar pada masyarakat sekitarnya seperti peningkatan ekonomi rakyat dan terbukanya lapangan kerja baru walaupun juga terdapat dampak negatif seperti menipisnya nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Borobudur.
Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran wisatawan ke Borobudur telah membawa dampak positif yang sangat besar pada masyarakat sekitarnya seperti peningkatan ekonomi rakyat dan terbukanya lapangan kerja baru walaupun juga terdapat dampak negatif seperti menipisnya nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Borobudur.
· Dampak Terhadap
Masyarakat disekitarnya
Ada tiga macam dampak pariwisata terhadap masyarakat
di sekitar Candi Borobudur yang diteliti, yaitu ekonomi, sosial, dan budaya.
Dari tiga macam dampak tersebut, dampak ekonomi merupakan dampak yang relatif
paling mudah untuk diketahui.
a)
Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi dalam konteks
penelitian ini adalah aktivitas-aktivitas baru untuk memperoleh penghasilan
atau sarana untuk bertahan hidup, yang muncul sebagai akibat adanya perubahan
pemanfaatan Candi Borobudur setelah dilaksanakannya pemugaran. Aktivitas untuk
memperoleh penghasilan ini dapat berupa pola-pola baru, misalnya tukar-menukar
barang ataupun jasa seperti munculnya rumah-rumah makan, hotel, pengasong, dan
industri kerajinan.
Jika ada dampak ekonomi positif seperti dikemukaan di atas, tentu saja ada juga dampak negtifnya. Dampak negatif terjadi pada beberapa orang yang tanahnya harus dibebaskan untuk pembangunan Taman Wisata Candi Borobudur. Sebagian dari mereka ada yang dapat ditampung sebagai karyawan taman wisata tersebut, sebagian lagi mendapat prioritas untuk memperoleh tempat berjualan atau membuka usaha di sekitar taman wisata, sedangkan sebagian yang lain hanya memperoleh ganti rugi. Mereka yang termasuk dalam kategori terakhir inilah yang tampak memperoleh dampak negatif.
Jika ada dampak ekonomi positif seperti dikemukaan di atas, tentu saja ada juga dampak negtifnya. Dampak negatif terjadi pada beberapa orang yang tanahnya harus dibebaskan untuk pembangunan Taman Wisata Candi Borobudur. Sebagian dari mereka ada yang dapat ditampung sebagai karyawan taman wisata tersebut, sebagian lagi mendapat prioritas untuk memperoleh tempat berjualan atau membuka usaha di sekitar taman wisata, sedangkan sebagian yang lain hanya memperoleh ganti rugi. Mereka yang termasuk dalam kategori terakhir inilah yang tampak memperoleh dampak negatif.
b)
Dampak Sosial
Berbeda dengan dampak ekonomi yang
tampak begitu jelas, dampak sosial pemanfaatan Candi Borobudur tidak begitu
mudah dipaparkan. Jika aspek sosial dari dampak didefinisikan sebagai aspek
relasi-relasi sosial dan pola-pola perilaku dari warga masyarakat, maka dampak
sosial ini dapat diketahui dengan memperhatikan data tentang relasi-relasi dan
pola-pola perilaku tersebut.
Relasi-relasi baru yang muncul
pascapemugaran atau setelah dijadikannya Candi Borobudur sebagai objek wisata
seperti paguyuban tukang andong, paguyuban pengasong, paguyuban pengkios,
bahkan dalam tataran yang lebih besar muncul beberapa Lembaga Suadaya
Masyarakat (LSM) seperti MAPAN, PATRA PALA, dan lain-lain.
Dampak sosial negatif pemanfaatan
Candi Borobudur untuk pariwisata tidak begitu tampak di desa tempat penelitian.
Dampak sosial negatif justru paling jelas terlihat di kawasan Taman Wisata
Candi Borobudur sendiri. Kehadiran ratusan pengasong dan penjual jasa ini tidak
hanya mempunyai kemungkinan merusak bagian taman dan membahayakan kelestarian
Candi Borobudur itu sendiri, bahkan juga merusak citra pariwisata Indonesia
khususnya di Borobudur.
c)
Dampak Budaya
Dampak budaya yang merupakan
perubahan pada sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, norma, serta
aturan-aturan yang ada dalam suatu masyarakat, sebagai hasil dari terjadinya
perubahan-perubahan tertentu di dalamnya, merupakan dampak yang relatif paling
sulit untuk diketahui. Dampak budaya ini tidak dapat begitu saja diamati, dan
tidak selalu dapat dipaparkan dengan jelas oleh warga masyarakat yang diteliti.
Namun demikian, hal itu dapat diketahui dengan memperhatikan berbagai perilaku
dan interaksi sosial, serta bebagai bentuk ekspresi simbolis lainnya, misalnya
munculnya berbagai macam bentuk kesenian baru.
Perubahan bidang kesenian belum
sepenuhnya dapat dikatakan ada kaitannya dengan pemanfaatan Candi Borobudur
sebagai objek pariwisata. Untuk jenis kesenian tertentu yang muncul setelah
pemugaran, dapat terlihat jelas kaitannya dengan pemanfaatan candi dan
meningkatnya kegiatan pariwisata di Desa Borobudur. Misalnya kesenian kroncong,
cokekan, slawatan/rebana, dan kesenian dayak.
Daftar Pustaka
http:///F:/I%20LOVE%20HINDU%20%20Candi%20Borobudur.htm
http:///F:/Informasi%20Wisata%20dan%20Budaya%20%20Minimalisasi%20Dampak%20Negatif%20Pemanfaatan%20Candi%20Borobudur%20Sebagai%20Objek%20Wisata.htm
http:///F:/CANDI%20BOROBUDUR%20warisan%20luhur%20bangsa%20_%20arie%20saksono.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar