BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Antra
manusia sebuah kelompok masyarakat saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sehingga membentuk nilai, norma, adat istiadat, dan kebudayan. Hal-hal
itulah yang kemudian dianut oleh masyarakat sehigga menjadi sesuatu secara
turun-temurun akan di anut oleh masyarakat tersebut. Namun, tifak semuah nilai,
norma, adat istiadat dan kebudayaan yang berlaku pada zaman dahulu masih di
terapkan pada masa sekarang ini. Kebanyakan hal-hal tersebut mulai berubah
menyesuaikan perkembangan zaman. Jika dalam sebuah masyarakat terdapat beberapa
hal yang membedakan antara sebuah kelompok dengan kelompok lain sering kali
akan membentuk suatu kelompok masyarakat yang di anggap kedudukannya lebih
tinggih jika didibanding dengan kelompok
bidang masyarakat yang lainnya. Dalam bidang Psikologi, masyarakat seperti ini
disebut sebagai masyarakat yang terdiferensiasi.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apaka hubungan psikologi dengan
masyarakat itu?
b. Bagaimana
peran psikologi sosial dalam mengatasi prasangka sosial?
c. Bagaimanakah Psikologi Masyarakat ?
1.3 Tujuan
a. Mendeskripsikan hubungan psikologi dengan masyarakat
b. Mendeskripsikan peran
psikologi sosial dalam mengatasi prasangka sosial
c. Mendeskripsikan Psikologi Masyarakat
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN
MASYARAKAT
Psikologi sebagai ilmu yang
mempelajari tentang perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan.
Beberapa subbidang dalam psikologi yang muncul akibat perkembangan ilmu ini
sendiri dan membuat para psikolog dapat menjelaskan beberapa masalah yang sama
tentang perilaku melalui cara yang berbeda juga dibahas dalam buku ini. Buku
ini berguna sebagai pedoman yang merangkum sebagian besar informasi yang
berasal dari berbagai temuan terdahulu karena banyaknya pendapat dan teori yang
bemunculan dari perkembangan psikologi sejak dulu hingga saat ini.
Hubungan masyarakat, atau sering disingkat humas adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga
dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu/ organisasi.
Menurut IPRA (International Public Relations Association) Humas adalah
fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi
dan lembaga swasta atau publik (public) untuk memperoleh pengertian, simpati,
dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan
penelitian opini public di antara mereka.
Sebagai sebuah profesi seorang Humas bertanggung jawab untuk memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan
membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan
menerima sebuah situasi.
Seorang humas selanjutnya diharapkan untuk membuat program-program dalam
mengambil tindakan secara sengaja dan terencana dalam upaya-upayanya
mempertahankan, menciptakan, dan memelihara pengertian bersama antara organisasi dan masyarakatnya.
Posisi humas merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh
suatu manajemen organisasi. Sasaran humas adalah publik internal dan eksternal,
dimana secara operasional humas bertugas membina hubungan harmonis antara
organisasi dengan publiknya dan mencegah timbulnya rintangan psikologis yang
mungkin terjadi di antara keduanya.
1. Melalui
Hubungan Antar Kelompok
Dengan berhubungan antar kelompok, bisa diasumsikan
bahwa anggota kelompok yang berbeda bila
saling berinteraksi satu sama lain akan mengurangi banyak
prasangka antara mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip
yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi yang terjadi maka
prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang. Karena dengan
mengadakan hubungan antar kelompok ini masing-masing kelompok akan saling
mengenal untuk kemudian mendapatkan dukungan sosial dan dukungan institusional
dari kelompok lain. Selain itu masing-masing kelompok akan memiliki hubungan
yang sejajar yang kemudian akan membentuk kerjasama antar kelompok.
2. Melalui Sosialisasi
Sosialisasi
juga merupakan metode yang sesuai untuk mengurangi prasangka. Upaya sosialisasi
nilai-nilai egalitarian dan tidak berprasangka bisa dilakukan di rumah atau
keluarga, di sekolah maupun dimasyarakat. Keluarga adalah faktor yang sangat
penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak
berprasangka. Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang
dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong sikap berprasangka tetap tidak
berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman
sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah
untuk mengurangi prasangka mungkin tidak akan berhasil jika di rumah situasi
keluarga tidak mendukung
3. Melalui Penyadaran Diri
Penyadaran diri merupakan sumber
yang paling signifikan dalam prasangka sosial. Karena proses prasangka diri
inilah yang biasanya berkembang menjadi prasangka sosial dan menjadi konflik
antar etnis dan kelompok masyarakat. Adapun untuk melakukan hal ini individu
bisa melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.
Adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial
lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu
system sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu
politik, antropologi, dan ekonomi. Psikologi sosial mengakui aktifitas manusia
yang rentangnya luas dan pengaruh budaya serta perilaku manusia dimasa lampau.
Dalam mengambil fokus ini psikologi sosial beririsan dengan filsafat, sejarah,
seni dan musik. Selain itu psikologi sosial memiliki perspektif luas dengan
berusaha memahami relevansi dari proses internal dari aktivitas manusia
terhadap perilaku sosial. Dalam hal ini psikologi sosial misalnya mungkin
mempertanyakan bagaimana keadaan orang setelah menyaksikan suatu kejadian
menakutkan akan mempengaruhi arousal secara fisiologis, seperti tekanan
darah dan serangan jantung. Karena perspektif ini, maka dibahas tentang persepsi,
kognisi dan respon fisiologis.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa cirikhas dari
psikologi sosial adalah memfokuskan pada individu daripada kelompok atau
unit.sementara ahli ilmu sosial yang lain mempergunakan analisis kemasyarakatan
yakni mempergunakan faktor-faktor secara luas untuk menjelaskan perilaku
sosial. Misalnya sosiologi lebih tertarik pada struktur dan fungsi kelompok.
Kelompok itu dapat kecil (keluarga), atau moderat (perkumpulan mahasiswa, klub
sepakbola), atau luas (suatu masyarakat).
Sementara bidang studi lain dari psikologi yang tertarik
pada keunikan dari perilaku individu adalah psikologi kerpibadian. Pendekatan
psikologi kepribadian adalah membandingkan masing-masing orang. Sementara
pendekatan psikologi sosial adalah mengidentifikasikan respon (cara bereaksi)
dari sebagian besar atau kebanyakan orang dalam suatu situasi dan meneliti
bagaimana situasi itu mempengaruhi respon tersebut.
Marilah kita bandingkan ketiga pendekatan tersebut dengan
menggunakan contoh yang spesifik untuk menganalisis terjadinya tindak
kekerasan. Pendekatan kemasyarakatan cenderung menunjukkan adanya kaitan antara
tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan, urbanisasi yang cepat, dan
industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk membuktikan kesimpulan ini,
mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang yang miskin lebih sering
melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di daerah kumuh ketimbang di
lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa resesi ekonomi dan menurun di
saat kondisi ekonomi membaik.
Sementara pendekatan individual dalam bidang psikologi yang
lain (psikologi kepribadian, perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan
kriminalitas berdasarkan karakteristik dan pengalaman criminal individu yang
unik. Pendekatan ini akan mempelajari perbedaan individual yang menyebabkan
sebagian orang melakukan tindak criminal, yang tidak dilakukan oleh orang lain
dengan latar belakang yang sama, untuk itu, biasanya mereka memusatkan pada
latar belakang individu, misalnya bagaimana perkembangan orang itu? Disiplin
apakah yang diterapkan orang tuanya? Mungkin orang tua yang kasar cenderung
menumbuhkan anak belajar berperilaku kasar?. Penelitian dapat dilakukan dengan
membandingkan latar belakang keluarga anak yang nakal dengan yang tidak nakal.
Jadi analisis semacam ini memusatkan pada bagaimana dalam situasi yang sama
orang dapat melakukan perilaku yang berbeda karena pengalaman masa lalu yang
unik.
Sebaliknya psikologi sosial lebih berpusat pada usaha
memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi sosial yang terjadi.
Psikologi sosial mempelajari perasaan subyektif yang biasanya muncul dalam
situasi sosial tertentu, dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilaku.
Situasi interpersonal apa yang menimbulkan perasaan marah, dan meningkatkan
atau menurunkan kemungkinan munculnya perilaku agresi? Sebagai contoh, salah
satu prinsip dasar psikologi sosial adalah bahwa situasi frustasi akan membuat
orang marah, yang memperbesar kemungkinan timbulnya mereka melakukan perilaku
agresi. Akibat situasi yang menimbulkan frustasi ini merupakan penjelasan
alternative mengenai sebab timbulnya kejahatan. Hubungan itu tidak hanya
menjelaskan mengapa perilaku agresif terjadi dalam situasi tertentu, tetapi
juga menjelaskan mengapa faktor ekonomi dan kemasyarakatan menimbulkan
kejahatan. Misalnya, orang miskin berduyun-duyun dating ke kota akan mengalami
frustasi; mereka ternyata sulit mencari pekerjaan, mereka tidka dapat membeli
apa yang mereka inginkan, tidak dapat hidup layak seperti yang mereka
bayangkan. Dan frustasi ini merupakan sebab utama munculnya sebagian besar
perilaku criminal. Psikologi sosial biasanya juga menyangkut perasaan-perasaan
subyektif yang ditimbulkan situasi interpersonal, yang kemudian mempengaruhi
perilaku individu. Dalam contoh ini situasi frustasi menimbulkan kemarahan,
yang kemudian menyebabkan timbulnya perilaku agresif.
2.2 Peran psikologi sosial dalam
mengatasi prasangka sosial
Berbagai prasangka sosial muncul pada masyarakat yang multikultural. Hal ini dikarenakan perbedaan pandangan,
pemahaman dan ideologi yang ada pada masing-masing kelompok dan etnis.
Upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam mengurangi
prasangka, yakni melalui hubungan antar kelompok, melalui sosialisasi, melalui
rekayasa sosial, maupun melalui penyadaran diri pribadi.
2.3 Melalui
Hubungan Antar Kelompok
Dengan berhubungan antar kelompok, bisa diasumsikan
bahwa anggota kelompok yang berbeda bila
saling berinteraksi satu sama lain akan mengurangi banyak
prasangka antara mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip
yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi yang terjadi maka
prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang. Karena dengan
mengadakan hubungan antar kelompok ini masing-masing kelompok akan saling
mengenal untuk kemudian mendapatkan dukungan sosial dan dukungan institusional
dari kelompok lain. Selain itu masing-masing kelompok akan memiliki hubungan
yang sejajar yang kemudian akan membentuk kerjasama antar kelompok.
2.4 Melalui Sosialisasi
Sosialisasi
juga merupakan metode yang sesuai untuk mengurangi prasangka. Upaya sosialisasi
nilai-nilai egalitarian dan tidak berprasangka bisa dilakukan di rumah atau
keluarga, di sekolah maupun dimasyarakat. Keluarga adalah faktor yang sangat
penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak
berprasangka. Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang
dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong sikap berprasangka tetap tidak
berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman
sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah
untuk mengurangi prasangka mungkin tidak akan berhasil jika di rumah situasi
keluarga tidak mendukung
2.5 Melalui Penyadaran Diri
Penyadaran diri merupakan sumber yang paling signifikan dalam prasangka sosial.
Karena proses prasangka diri inilah yang biasanya berkembang menjadi prasangka
sosial dan menjadi konflik antar etnis dan kelompok masyarakat. Adapun untuk
melakukan hal ini individu bisa melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.
2.6 Psikologi Masyarakat
Masyarakat dan kebudayaannya
pada dasarnya merupakan tayangan besar
dari kehidupan bersama antara individu-individu manusia yang bersifat dinamis.
Pada masyarakat yang kompleks (majemuk)
memiliki banyak kebudayaan dengan standar perilaku yang berbeda dan
kadangkala bertentangan, Perkembangan kepribadian individu pada masyarakat ini
sering dihadapkan pada model-model perilaku yang suatu saat diimbali sedang
saat yang lain disetujui oleh beberapa kelompok namun dicela atau dikutuk oleh
kelompok lainnya, dengan demikian seorang anak yang sedang berkembang akan
belajar dari kondisi yang ada, sehingga perkembangan kepribadian anak dalam
masyarakat majemuk menunjukkan bahwa pola asuh dalam keluarga lebih berperan
karena pengalaman yang dominan akan membentuk kepribadian, satu hal yang perlu
dipahami bahwa pengalaman seseorang tidak hanya sekedar bertambah dalam proses
pembentukan kepribadian, namun terintegrasi dengan pengalaman sebelumnya,
karena pada dasarnya kepribadian yang memberikan corak khas pada perilaku dan
pola penyesuaian diri, tidak dibangun dengan menyusun suatu peristiwa atas
peristiwa lain , karena arti dan pengaruh suatu pengalaman tergantung pada
pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya.
Masyarakat Indonesia sebagai salah satu negara
berkembang mempunyai ciri , adanya perubahan yang sangat pesat dalam berbagai
aspek kehidupan, baik perubahan system
ekonomi, polotik sosial dan sebagainya, dan dalam kenyataan tidak ada satupun
gejala perubahan sosial yang tidak menimbulkan akibat terhadap kebudayaan
setempat. Kebudayaan dianggap sebagai
sumber penggalangan konformisme perilaku individu pada sekelompok masyarakat
pendukung kebudayaan tersebut, karena setiap anak manusia lahir dalam suatu lingkungan alam tertentu
(nature) dan dalam satu lingkungan
kebudayaan tertentu (culture) yang keduanya merupakan lingkungan yang secara
apriori menentukan proses pengasuhannya (nurture) dalam pengembangannya sebagai
anak manusia, dalam proses pembelajaran, sehingga dalam kanyataan, kebudayaan
cenderung mengulang-ulang perilaku tertentu melalui pola asuh dan proses
belajar yang kemudian memunculkan adanya
kepribadian rata-rata, atau stereotype perilaku yang merupakan ciri khas
dan masyarakat tertentu yang mencerminkan kepribadian modal dalam lingkungan
tersebut, dari pemahaman ini kemudian muncul stereotipr perilaku pada
sekelompok individu pada masyarakat tertentu..
Konsep
watak kebudayaan sebagai kesamaan regularities sifat di dalam organisasai intra
psikis individu anggota suatu masyarakat
tertentu yang diperoleh karena cara pengasuhan anak yang sama di dalam
masyarakat yang bersangkutan, (Margaret Mead,) Apabila ini dikaitka dengan
konsep watak masyarakat (social character) dilandasi oleh pikiran untuk
menghubungkan kepribadian tipical dari suatu kebudayaan (watak masyarakat) dengan kebutuhan
obyektif masyarakat yang dihadapi suatu
masyarakat. Dalam hal ini Danandjaja :
1988 ) ingin menggabungkan antara gagasan lama tentang sifat adaptasi pranata sosial terhadap kondisi lingkungan, dengan modifikasi karakterologi psiko
analitik. Teori Erich Formm mengenai
watak masyarakat (social character) kendati mengakui juga asumsi dari teori
lainnya mengenai tranmisi kebudayaan
dalam hal membentuk “kepribadian
tipikal’ atau kepribadian
kolektif namun dia telah juga mencoba untuk menjelaskan fungsi-fungsi
sosio historical dari tipe kepribadian tersebut. Yang menghubungkan kepribadian tipikal dari suatu
kebudayaan dengan kebutuhan obyektif
yang dihadapi suatu masyarakat. Untuk memuskan hubungan itu secara efektif suatu masyarakat perlu menerjemahkannya
kedalam unsur-unsur watak (traits) dari
individu anggotanya agar mereka bersedia melaksanakan apa yang harus mereka lakukan.
Unsur-unsur
watak bersama tersebut membentuk watak masyarakat dari masyarakat tersebut
melalui latihan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anak mereka,
sementara orang tua telah memperoleh unsur-unsur watak tersebut baik dari
orangtuanya atau sebagai jawaban langsung terhadap kondisi-kondisi perubahan
masyarakat Dalam konteks ekologi kebudayaan manusia merupakan hasil dari 2
proses yang saling mengisi yaitu adanya perkembangan sebagai hasil hubungan manusia
dengan lingkungan alamnya yang mendorong manusia untuk memilih cara
dalam menyesuaikan diri secara aktif dan kemampuan manusia dalam berpikir
metaphoric sehingga dapat memperluas
atau mempersempit jangkauan dari lambang-lambang dalam system arti yang
berkembang sedemikian rupa sehingga lepas dari pengertia aslinya, sehingga
kebudayaan secara umum diartikan sebagai kompleksitas system nilai dan gagasan
vital yang menguasai atau merupakan pedoman bagi terwujudnya pola tingkah laku bagi masyarakat
pendukungnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pada dasarnya psikologi sosial
sangat berhubungan dengan ilmu sosial lain nya, dimana psikologi sosial
merupakan bagian dari semua cabang ilmu sosial lainnya.
Psikologi sosial merupakan salah satu disiplin ilmu yang
mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial. Dalam
kaitannya, psikologi sosial membantu masyarakat dalam mengatasi fenomena yang
terjadi dalam kehidupan sosial. Salah satu fenomena tersebut adalah prasangka
sosial. Prasangka yang terdiri dari jarak sosial dan diskriminasi erat
kaitannya dengan efektivitas dalam berkomunikasi.
3.1 SARAN
Upaya mengurangi prasangka identik dengan pemahaman
lintas budaya. Hal ini sangat penting karena pemahaman lintas budaya mampu
mengembangkan masyarakat yang menghargai keberagaman dalam kehidupan yang
multietnik. Masyarakat yang demikian diharapkan mampu menciptakan kehidupan
sosial yang tentram dan saling menghargai antar sesama manusia dalam kehidupan
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Gerungan. Psikologi sosial . 2004. Bandung : Refika
Aditama.
Walgito,
Bimo. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). 1994. Yogyakarta
Watson,
G. 1966. Social Psychology: Issues and Insigts. Philadelphia:
Lippincott.
Titanium trim hair cutter reviews - TiGObuild
BalasHapusResults 1 - titanium rod in femur complications 24 of 24 stiletto titanium hammer — Looking for tips titanium wood stoves on titanium hair hair scissors? 출장샵 Visit TiGObuild to find tips on your favorite razor.